Analisis Saham INET PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk : Prospek dan Strategi Ekspansi 2025

waktu baca 11 menit
Kamis, 11 Des 2025 04:30 20 pandalungan

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk dengan kode saham INET telah menjadi sorotan pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025. Emiten yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi business-to-business ini mencatatkan kinerja luar biasa dengan lonjakan harga saham mencapai lebih dari 1.200 persen secara year-to-date. Fenomena ini menarik perhatian investor karena didukung oleh fundamenta yang kuat dan rencana ekspansi besar-besaran melalui rights issue senilai triliunan rupiah.

Profil Perusahaan

INET didirikan pada tahun 2016 dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 24 Juli 2023 dengan harga perdana Rp101 per saham. Perusahaan ini merupakan penyedia layanan infrastruktur konektivitas yang melayani lebih dari 100 perusahaan Internet Service Provider dari total sekitar 800 ISP yang ada di Indonesia.

Layanan utama yang ditawarkan INET mencakup pusat data interkoneksi, layanan kolokasi, local loop access, serta layanan IP Transit. Perusahaan memiliki 13 Point of Presence (POP) di berbagai kota besar Indonesia dan jaringan serat optik sepanjang 3.500 km di Pulau Jawa dengan jangkauan hingga 590 kota dan lebih dari 600 gedung. INET bermitra dengan berbagai ISP besar seperti MyRepublic, MNC Vision Network, Moratelindo, Linknet, dan ratusan ISP lokal lainnya.

Kinerja Keuangan Periode Januari-September 2025

Kinerja keuangan INET pada sembilan bulan pertama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang sangat impresif. Pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp68,60 miliar, melonjak 195 persen dibandingkan Rp23,28 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh segmen layanan internet yang berkontribusi Rp67,15 miliar, naik 188,4 persen secara tahunan.

Laba bersih INET melesat 819 persen menjadi Rp19,37 miliar dari hanya Rp2,10 miliar pada periode sebelumnya. Laba usaha juga mencatat kenaikan drastis sebesar 900 persen dari Rp2,49 miliar menjadi Rp25,27 miliar. EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp35,35 miliar, menunjukkan efisiensi operasional yang semakin kuat.

Dari sisi profitabilitas, Gross Profit Margin kuartal ketiga meningkat menjadi 66,3 persen, sementara marjin EBITDA melesat ke 76,4 persen dari sebelumnya 26,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan margin ini menandakan bahwa INET mampu mengelola biaya operasional dengan lebih efisien sambil terus mengembangkan bisnis.

Total aset perusahaan hampir berlipat ganda, mencapai Rp454,59 miliar per 30 September 2025 dari Rp229,85 miliar per 31 Desember 2024. Meskipun total liabilitas meningkat menjadi Rp93,07 miliar dari Rp13,98 miliar, tingkat leverage INET masih tergolong sangat rendah dengan Debt to Equity Ratio hanya 0,26 kali, menunjukkan struktur modal yang sehat dan konservatif.

Faktor Pendorong Pertumbuhan

Lonjakan kinerja INET didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, ekspansi pelanggan yang sangat agresif melalui mitra INET, khususnya PT Solusi Sinergi Digital (WIFI). Jumlah pelanggan melonjak dari 220.000 pada Desember 2024 menjadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025.

Kedua, peningkatan permintaan layanan internet fixed broadband di Indonesia yang penetrasinya baru mencapai 15 persen memberikan peluang pertumbuhan yang sangat besar. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan valuasi ekonomi digital Indonesia akan mencapai USD360 miliar pada tahun 2030, didukung oleh pertumbuhan pesat dalam sektor e-commerce, transportasi online, dan berbagai layanan digital lainnya.

Ketiga, strategi perusahaan dalam menambah point of presence di berbagai wilayah membuat INET menjadi solusi konektivitas yang semakin dibutuhkan oleh ISP di seluruh pelosok negeri. Dengan meningkatkan skala ekonomi, INET mendapatkan citra positif dan kepercayaan yang lebih besar dari mitra bisnis.

Rencana Rights Issue Rp3,2 Triliun

Untuk mendukung ekspansi lebih lanjut, INET tengah mempersiapkan aksi korporasi besar berupa rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) senilai maksimal Rp3,2 triliun. Rencana ini mencakup penerbitan hingga 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar saham, dengan rasio pelaksanaan tiga saham lama menghasilkan empat HMETD.

Dana hasil rights issue akan dialokasikan secara mayoritas untuk pengembangan infrastruktur melalui anak-anak perusahaan. Rincian alokasinya adalah sebagai berikut: Rp2,8 triliun untuk PT Garuda Prima Internetindo (GPI) guna membangun 2 juta koneksi Fiber to the Home (FTTH) dengan teknologi Wi-Fi 7 terbaru di Bali dan Lombok, Rp213 miliar untuk PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk pembayaran Indefeasible Right of Use (IRU) kabel laut, serta Rp135 miliar untuk PT Internet Anak Bangsa (IAB) untuk ekspansi FTTH di wilayah Jawa.

PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 60,62 persen telah menunjukkan komitmen penuh untuk menyerap seluruh haknya senilai Rp1,78 triliun dan bertindak sebagai standby buyer hingga Rp1,41 triliun. Komitmen ini memberikan kepastian bahwa rights issue akan berhasil dan mengurangi risiko dilusi berlebihan bagi investor publik yang ikut menebus hak.

Sebagai pemanis, INET juga menawarkan Waran Seri II yang dibagikan gratis dengan rasio enam waran untuk setiap 25 saham baru yang ditebus. Waran ini akan diperdagangkan di BEI mulai Desember 2025 dengan harga pelaksanaan Rp300 dan masa berlaku hingga Juni 2028.

Strategi Akuisisi

Selain rights issue, INET juga menjalankan strategi akuisisi untuk memperkuat ekosistem bisnisnya. Perusahaan mengumumkan rencana mengakuisisi 60 persen saham pengendali PT Trans Hybrid Communication (THC), sebuah perusahaan PMA yang bergerak di bisnis IP Transit, Dedicated Internet, IIX, IPLC, Managed Services, Co-Location Server, dan cloud services.

THC memiliki jaringan besar di Kalimantan Barat, termasuk koneksi lintas negara menuju Kuching (Malaysia) dan Brunei Darussalam, serta izin NAP yang memungkinkan perusahaan beroperasi secara internasional. Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi memperluas infrastruktur backbone dan menciptakan jalur internet alternatif yang tidak hanya bertumpu pada rute barat Indonesia.

INET juga berencana mengakuisisi 53,57 persen saham pengendali PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat) dengan nilai transaksi diperkirakan maksimal Rp100 miliar.

PADA adalah perusahaan yang bergerak di bidang manajemen outsourcing dan telah melayani lebih dari 80 klien dengan mempekerjakan lebih dari 8.000 orang di seluruh Indonesia. Melalui akuisisi ini, INET berharap dapat menciptakan sinergi di bidang sumber daya manusia, khususnya untuk kebutuhan teknisi dan tenaga operasional di proyek telekomunikasi, sehingga dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.

Pada 23 September 2025, INET juga telah mengakuisisi PT Garuda Prima Internetindo, sebuah ISP asal Bali yang menyediakan layanan internet dengan brand Bali Internet dan Flynet. Melalui entitas ini, INET menargetkan menambah 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok dengan membangun 2 juta FTTH secara bertahap dalam dua tahun.

Proyek-Proyek Strategis

INET memiliki beberapa proyek strategis yang akan menjadi pendorong pertumbuhan di masa depan. Pertama, proyek kabel bawah laut melalui kontrak sewa dengan PT Jejaring Mitra Persada. Direktur Utama INET Muhammad Arief Angga memproyeksikan bahwa proyek kabel bawah laut ini dapat memberikan pendapatan sekitar Rp156 miliar pada 2026 dan Rp250 miliar pada 2027. Rute penting yang akan dikembangkan termasuk Jakarta-Batam-Singapura.

Kedua, pembangunan jaringan Fiber to the Home dengan teknologi Wi-Fi 7 terbaru, terutama di Bali, Lombok, dan Jawa. Target ambisius perusahaan adalah membangun 2 juta homepass sampai akhir 2026, yang akan mencakup perangkat inti seperti OLT, ODC, ODP, hingga ONT.

Ketiga, proyek Node Internet dimana INET telah melakukan kontrak kerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) untuk membangun 58 node Indonesia Interconnection Exchange (IIX) di Jawa. Saat ini sudah dibangun 3 titik pertama dengan target penyelesaian di akhir 2025.

Manajemen menghitung bahwa perseroan dapat memperoleh pendapatan berulang setiap tahun sekitar Rp13,6 miliar dengan gross profit margin sekitar 35-45 persen dari proyek ini.

Rencana Penerbitan Obligasi

Selain rights issue, INET juga menyiapkan alternatif pendanaan lain berupa penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun yang saat ini tengah dalam proses pengajuan ke Otoritas Jasa Keuangan. Obligasi ini direncanakan akan diterbitkan pada tahun 2026. Dana dari obligasi tersebut akan diarahkan untuk mempercepat pembangunan jaringan kabel bawah laut serta proyek fiber-to-the-home untuk dua juta rumah di Bali dan Lombok.

Total pendanaan eksternal yang direncanakan INET mencapai sekitar Rp4,2 triliun, yang menunjukkan keseriusan manajemen dalam melakukan ekspansi besar-besaran. Dengan dukungan pendanaan yang kuat dan strategi yang jelas, INET menargetkan diri menjadi tulang punggung infrastruktur digital nasional.

Pergerakan Harga Saham dan Suspensi

Harga saham INET mengalami lonjakan luar biasa sepanjang tahun 2025. Dalam lima hari terakhir perdagangan sebelum suspensi, saham ini melonjat 12,32 persen. Secara bulanan, INET mencatat kenaikan 170,9 persen, sementara secara year-to-date (ytd), harga saham meroket 961,64 persen.

Pada perdagangan 3 Desember 2025, sehari sebelum disuspensi, saham INET berada di level Rp775 per saham. Bursa Efek Indonesia kemudian menghentikan sementara perdagangan saham dan waran INET mulai sesi pertama 4 Desember 2025 hingga pengumuman lebih lanjut karena terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

BEI mengumumkan pembukaan suspensi pada 10 Desember 2025. Pada hari pembukaan tersebut, harga saham INET menguat 9,68 persen ke posisi Rp850 per saham dengan volume perdagangan mencapai 1.032.727 saham dan nilai transaksi Rp87,8 miliar.

Namun, saham INET dimasukkan ke papan pemantauan khusus full call auction (FCA) dengan kriteria 10, artinya saham ini sempat dikenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

Proyeksi Kinerja dan Target Harga

Berdasarkan riset dari Samuel Sekuritas Indonesia, INET memiliki proyeksi pertumbuhan yang sangat agresif. Untuk tahun 2026, pendapatan INET diperkirakan mencapai Rp942 miliar, meningkat 284 persen secara year-on-year dengan marjin EBITDA berada pada kisaran 60-70 persen. Proyeksi laba bersih di tahun 2026 mencapai Rp257 miliar atau tumbuh 849,2 persen secara tahunan.

Untuk tahun 2027, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp736 miliar atau tumbuh 185,7 persen year-on-year. Samuel Sekuritas mematok target harga baru Rp1.350 per saham, mengacu pada valuasi EV/EBITDA 2027F sebesar 25x. Target harga ini mengindikasikan potensi kenaikan mencapai 74,2 persen dari harga acuan terakhir sebelum suspensi dicabut (Rp775).

Proyeksi pertumbuhan yang agresif ini didukung oleh beberapa katalis utama, yaitu pendapatan dari proyek kabel bawah laut yang diprediksi mencapai Rp156 miliar pada 2026 dan Rp250 miliar pada 2027, penambahan 2 juta pelanggan baru melalui ekspansi FTTH di Bali, Lombok, dan Jawa, serta pendapatan berulang dari proyek node internet dan layanan managed services melalui akuisisi THC dan PADA.

Analisis Valuasi

Meskipun pertumbuhan kinerja sangat impresif, investor perlu mempertimbangkan valuasi saham INET dengan cermat. BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa fair value INET berada di sekitar Rp385 per saham, yang mengindikasikan bahwa pada harga-harga tertentu, saham ini mungkin sudah mengalami overvalu. Namun, angka ini dihitung sebelum momentum rights issue dan berbagai aksi korporasi terbaru diumumkan.

Investor juga perlu mempertimbangkan risiko dilusi kepemilikan dari rights issue. Jika investor publik yang saat ini menguasai hampir 40 persen saham memilih tidak ikut menebus hak, porsi kepemilikan mereka bisa menyusut drastis. Namun, dengan komitmen kuat dari pemegang saham pengendali untuk menyerap seluruh haknya dan bertindak sebagai standby buyer, risiko kegagalan rights issue dapat diminimalkan.

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa meskipun arus kas operasional masih negatif (-89,6 persen) per Juni 2025, hal ini umum terjadi pada perusahaan yang sedang dalam fase ekspansi agresif. Investasi besar-besaran dalam infrastruktur dan akuisisi memerlukan arus kas keluar yang signifikan dalam jangka pendek, namun diharapkan akan menghasilkan pendapatan berulang yang stabil di masa depan.

Risiko dan Tantangan

Meskipun prospek INET terlihat cerah, terdapat beberapa risiko dan tantangan yang perlu diperhatikan investor. Pertama, eksekusi proyek yang padat dan ambisius memerlukan manajemen yang sangat baik. Pembangunan 2 juta koneksi FTTH dalam waktu dua tahun, pengembangan kabel bawah laut, dan integrasi beberapa akuisisi secara bersamaan adalah tantangan operasional yang tidak mudah.

Kedua, kebutuhan modal kerja yang sangat besar untuk mendanai ekspansi ini dapat membebani keuangan perusahaan jika tidak dikelola dengan baik. Meskipun DER masih rendah, peningkatan liabilitas yang signifikan perlu dipantau dengan cermat.

Ketiga, persaingan di industri telekomunikasi dan ISP sangat ketat dengan pemain-pemain besar yang sudah mapan. INET perlu terus berinovasi dan memberikan nilai tambah kepada mitra-mitranya agar tetap kompetitif.

Keempat, ketergantungan pada mitra ISP untuk pertumbuhan pelanggan membuat INET rentan terhadap perubahan strategi atau kinerja dari mitra-mitra tersebut. Jika mitra utama seperti WIFI mengalami perlambatan pertumbuhan atau masalah operasional, hal ini dapat berdampak langsung pada pendapatan INET.

Kelima, volatilitas harga saham yang sangat tinggi dapat menjadi risiko bagi investor yang tidak siap menghadapi fluktuasi tajam. Kenaikan lebih dari 1.200 persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa pasar telah memberikan valuasi premium yang tinggi terhadap ekspektasi pertumbuhan masa depan.

Kesimpulan

INET merupakan salah satu saham yang paling menarik perhatian di pasar modal Indonesia tahun 2025. Dengan pertumbuhan pendapatan 195 persen dan laba bersih 819 persen pada sembilan bulan pertama 2025, fundamental perusahaan menunjukkan tren positif yang kuat. Rencana rights issue senilai Rp3,2 triliun dan penerbitan obligasi Rp1 triliun menunjukkan keseriusan manajemen dalam melakukan ekspansi besar-besaran di sektor infrastruktur digital.

Strategi akuisisi yang terintegrasi, mulai dari Garuda Prima Internetindo untuk ekspansi pelanggan ritel, THC untuk penguatan layanan enterprise dan konektivitas internasional, hingga PADA untuk efisiensi operasional, menunjukkan visi jangka panjang yang komprehensif. Proyek-proyek strategis seperti kabel bawah laut, FTTH dengan teknologi Wi-Fi 7, dan node internet memberikan visibilitas pendapatan yang jelas untuk beberapa tahun ke depan.

Namun, investor harus tetap berhati-hati dan melakukan analisis menyeluruh sebelum berinvestasi. Volatilitas harga yang sangat tinggi, risiko eksekusi proyek, dan valuasi yang mungkin sudah premium adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan. Rights issue juga akan menyebabkan dilusi kepemilikan bagi investor yang tidak ikut menebus hak.

Bagi investor yang percaya pada potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan transformasi infrastruktur telekomunikasi nasional, INET menawarkan exposure yang menarik. Namun, investasi ini lebih cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi yang memiliki horizon investasi jangka panjang dan kemampuan untuk menghadapi volatilitas harga yang signifikan.

Pasar akan menilai INET bukan dari janji ekspansi semata, melainkan dari seberapa baik perusahaan dapat mengeksekusi rencana-rencana ambisius tersebut. Jika semua target tercapai dan pendapatan dari berbagai proyek strategis mulai mengalir sesuai proyeksi, INET berpotensi menjadi salah satu kisah sukses baru di sektor telekomunikasi Indonesia. Sebaliknya, jika eksekusi tidak berjalan sesuai rencana, koreksi harga yang tajam bisa terjadi.

Sebagai penutup, investor disarankan untuk terus memantau perkembangan proses persetujuan rights issue dari OJK, eksekusi akuisisi THC dan PADA, serta progress pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis. Laporan keuangan kuartalan juga harus dipantau dengan cermat untuk memastikan bahwa pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas terus berlanjut sesuai proyeksi. Dengan pendekatan analisis yang cermat dan manajemen risiko yang baik, investasi di INET dapat menjadi bagian dari portofolio yang terdiversifikasi dengan baik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

LAINNYA